Unja Gelar Seminar Pendidikan Inklusif, Dorong Perubahan Budaya Kampus Terkait Mahasiswa Disabilitas
Langkah ini menjadi relevan di tengah data nasional yang menunjukkan akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas masih sangat terbatas.
UNIVERSITAS Jambi (Unja) menegaskan komitmennya membangun lingkungan pendidikan yang inklusif melalui seminar bertajuk “Inspiring People in Culture of Inclusive Education”, Senin (7/9/2026) pagi WIB.
Kegiatan yang digelar Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Unja di Auditorium Gedung UNIFAC Kampus Mendalo ini menghadirkan dua pakar pendidikan inklusif: Muhammad Zulfikar Rakhmat, pendiri Sekolabilitas, dan Dr. Asep Jahidin, Koordinator Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Wakil Rektor Bidang Akademik Unja, Prof. Dr. Hafrida, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa saat ini Unja menampung 21 mahasiswa penyandang disabilitas yang masuk melalui jalur afirmasi khusus. Unja juga telah membentuk satuan tugas disabilitas sebagai langkah awal penguatan layanan.
“Masuknya mahasiswa disabilitas baru langkah awal. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana seluruh elemen kampus—dari fakultas hingga dosen—mampu memahami kebutuhan mereka sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan maksimal,” ujar Hafrida.
Ia menegaskan bahwa keberagaman harus dijadikan kekuatan, bukan hambatan .
Kepala LPMPP Unja, Prof. Dr. Retno Kusniati, menambahkan bahwa terwujudnya lingkungan pendidikan inklusif membutuhkan dukungan kelembagaan, kebijakan, program, serta keterlibatan seluruh sivitas akademika.
“Unja terus berupaya mewujudkan komitmen pendidikan tinggi yang inklusif. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun kampus yang ramah dan memberikan kesempatan setara,” ujarnya.
Langkah Unja ini menjadi relevan di tengah data nasional yang menunjukkan akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas masih sangat terbatas. Berdasarkan data PDDikti per Juni 2025, hanya 3.128 mahasiswa disabilitas yang tercatat menempuh pendidikan di 282 perguruan tinggi.
Angka yang sangat kecil dibandingkan total penyandang disabilitas Indonesia yang mencapai 17,9 juta jiwa. Penelitian GEDSI UNU Yogyakarta dan University of the West of England bahkan mencatat hanya 1,99 persen dari 4.523 perguruan tinggi yang secara resmi menerima mahasiswa disabilitas.
Hal ini juga menjadi perhatian legislator. Dalam keterangan tertulisnya kepada media, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan upaya untuk mewujudkan kampus inklusif harus menjadi gerakan bersama dan segera direalisasikan oleh seluruh kampus.
Ia menegaskan, hal ini penting dilakukan agar tidak ada lagi kendala yang membuat seluruh anak bangsa tanpa terkecuali tidak dapat menempuh pendidikan tinggi.
“Perlu langkah nyata untuk mengatasi berbagai kendala yang ada agar setiap anak bangsa, termasuk penyandang disabilitas, mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas,” kata Lestari, Senin (7/9/2026), sebagai dikutip Media Indonesia.
Anggota Komisi X DPR RI ini juga menekankan pentingnya konsolidasi antarperguruan tinggi untuk membangun ekosistem yang adaptif dan kolaboratif. Kesemuanya butuh gerakan dan tidak berhenti hanya di aturan dan pendanaan saja.
“Pemahaman tentang pentingnya ekosistem pendidikan inklusif harus disosialisasikan secara masif, termasuk kesiapan tenaga pendidik yang memiliki perspektif inklusif,” lanjut kader Partai Nasional Demokrat yang akrab dipanggil Rerie ini.
Seminar yang diselenggarakan Unja ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mendorong perubahan cara pandang di lingkungan kampus, sehingga inklusivitas tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi praktik berkelanjutan yang dirasakan seluruh sivitas akademika.



