Kelayakan KM Virgo Transport 8 Tuai Sorotan Anggota DPR RI asal Jambi
Kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi di perairan Laut Jawa saat itu disinyalir menjadi penyebab kecelakaan. Namun sorotan juga ditujukan terhadap kelayakan kapal yang diketahui telah berusia sekitar 39 tahun dan sebelumnya beroperasi di Jepang.
INSIDEN yang dialami KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa menuai sorotan luas. Anggota Komisi V DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jambi, Edi Purwanto, mempertanyakan kelayakan kapal bekas berusia puluhan tahun tersebut.
Sebagaimana diketahui, KM Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa pada Ahad (13/9/2026) dini hari WIB. Kapal tersebut tengah berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, mengangkut 243 orang dan 54 kendaraan.
Kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi di perairan Laut Jawa saat itu disinyalir menjadi penyebab kecelakaan. Namun sorotan juga ditujukan terhadap kelayakan kapal yang diketahui telah berusia sekitar 39 tahun dan sebelumnya beroperasi di Jepang.
“Ini perlu dicek. Bagaimana kok, ada kapal usia 39 tahun untuk kebutuhan penumpang masuk ke Indonesia,” kata Edi dalam program wawancara di Kompas TV, Senin (14/9/2026).
Edi menambahkan, kecelakaan ini harus ditelaah secara menyeluruh. Segala faktor yang memungkinkan terjadinya musibah teradap kapal tersebut harus diusut tuntas, tidak bisa hanya menyebut satu-dua hal seperti kelebihan muatan dan cuaca buruk.
“Apakah kapal itu benar-benar laik ketika diberangkatkan? Apakah muatan ditata dengan benar? Apakah informasi cuaca sampai kepada pihak yang membutuhkan? Apakah keputusan selama pelayaran sudah tepat? Apakah sistem komunikasi dan tanggap darurat bekerja dengan baik?” tegas Edi.
Lebih jauh, Edi mendorong perlunya dilakukan penelusuran mendalam mengenai proses masuknya kapal bekas tersebut ke Indonesia. Termasuk pula prosedur yang dijalani sampai akhirnya diberi lampu hijau untuk menjadi kapal penumpang.
“Menurut saya, kita harus melakukan audit menyeluruh,” simpulnya.
Berdasarkan pengumuman resmi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), hingga Senin (14/9/2026) pagi sebanyak 114 korban telah dievakuasi. Korban dibawa ke Pelabuhan Penumpang Trisakti Banjarmasih, Kalimantan Selatan, dengan dua kapal.
Dari jumlah itu, enam di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Tim evakuasi BNPB dan Basarnas masih terus melakukan pencarian terhadap 129 korban yang belum diketahui keberadaannya.



